Assalamu 'alaikum Wr.Wb.
Dear All,
Kami sekeluarga atas nama Hamiseno Family mengucapkan :
Taqobalallahu Minna Waminkum Minal Aidin Walfaidzin
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429H
Mohon Maaf Lahir Batin atas segala kesalahan dan kekhilafan kami selama ini dengan kata-kata yang mungkin kurang berkenan di hati rekan-rekan semua.
Tiada manusia yang sempurna dalam hal berkata dan bertindak
Tiada pula kesempurnaan batin dan hati
di mana insan ini tidak mau berserah diri dan menunduk
berusaha merajut impian, menata hati dan perbuatan
dengan berserah diri pada-Nya
Semua harus dijalani dengan pasrah dan berserah
dengan lapang dada
di saat tangan terulur untuk meminta dan memberi
satu kata yang mudah diucap
namun sulit diikhlaskan...
Maaf....
Wabilahi taufiq walhidayah,
Wassalamu 'alaikum Wr. Wb.
Hamiseno Family
Tuesday, October 7, 2008
Tuesday, September 16, 2008
Aktifitas si Kecil...




Assalamu 'alaikum Wr.Wb.
Dear All,
Sekian lama saya tidak posting, terkadang kangen juga untuk beredar di dunia maya, mengarang cerita dan berbagi rasa dengan sesama blogger yang tercinta. Sekali lagi, mumpung masih dalam suasana puasa, kami sekeluarga mengucapkan Selamat menunaikan ibadah puasa semoga amal dan ibadah kita selama ini diterima-Nya. Semoga juga kita senantiasa bertekad untuk selalu melakukan perbuatan yang baik dan diridloi-Nya, serta senantiasa dalam lindungan-Nya... amiin.
Sekedar intermezo, berikut akan kami sampaikan kegiatan Nadia selama ini, dengan semakin besarnya Nadia (sekarang berumur 3,4 th), Nadia sudah minta untuk ikut dalam kegiatan sekolah, meskipun hanya Playgroup. Ada beberapa hal yang menarik dari kegiatannya selama ini. Dari awal yang hanya mencorat-coret tembok rumah dengan crayon (sudah menghabiskan 3 set crayon) berupa pemandangan abstrak imaji anak, akhirnya sekarang ini berkembang menjadi gambar beraliran naturalis khas anak-anak.
Mungkin ada orang tua yang beranggapan bahwa ekspresi anak menggambar harus disalurkan ke media yang benar, seperti pada kertas ataupun media gambar lainnya. Namun, bagi kami hal tersebut tidak berlaku (mungkin ada yang tidak setuju dengan pendapat ini). Sebagai contoh, dengna membiarkan anak berkreasi tanpa batasan media dsb, terbukti Nadia bisa mengerti (bukan menghafal) seluruh warna pada saat dia berumur 2 tahun.. dari merah, jingga (orange) sampai ungu, semua dimengertinya.. jadi bukan hanya warna-warna primer saja yaitu merah, hijau, dan kuning.
Setelah berumur 3 tahun, Nadia kami bimbing untuk menggambar dengan berdasarkan logika. Istilahnya menggambar dengan bentuk yang proporsional. Jika menggambar orang, maka harus diberi rambut, mata, hidung, bibir, badan, kaki dsb. Jika menggambar bunga ya harus dengan tangkai dan daunnya. Dengan pelatihan ini, kami harapkan si kecil bisa mengerti bahwa segala sesuatu yang dihadapi nantinya harus diperhatikan secara detil termasuk dalam hal perencanaan. Jadi kami mengharap Nadia bisa belajar untuk mengerti secara keseluruhan (meskipun jauh dari sempurna), bukan hanya melihat sekilas. Sehingga ketergesaan yang bisa berakibat dengan kecerobohan bisa diantisipasi sebelumnya.
Ada hal menarik yang membuat kami terkejut, yaitu kemampuan daya ingat anak yang ternyata begitu peka. Saya pernah membelikan dia CD berupa pelajaran bentuk bangun, warna, huruf dan pengenalan alam yang memberikan informasi beragam tentang hal tersebut (dalam bahasa Inggris) ternyata suatu saat yang tidak pernah saya perkirakan, Nadia bertanya kepada saya tentang warna-warna. Kemudia dia menyebutnya dalam bahasa Inggris yang kesemuanya benar. Bahkan pada saat saya bolak-balik Inggris-Indonesia maupun Indonesia-Inggris, dia bisa mengerti padan katanya. Ini hal terbaru yang merupakan pelajaran bagi anda yang mempunyai anak kecil -- bahwa pelajaran visual (dari CD-TV) ternyata lebih mudah dimengerti dari pada pelajaran book oriented --Bagi anda yang sudah mempunyai anak harap berhati-hati dalam menonton TV karena imbasnya sangat besar bagi kemampuan anak dalam menstimulasi otaknya.
Berikut ini kami sampaikan beberapa gambar Nadia yang dicoretkannya di tembok rumah kami. Dari urutannya, yaitu Bunga, Bapak, Ibu, dan Nadia... anda mungkin akan tertawa melihat gambar tersebut, tetapi bagi kami ini merupakan Nadia's achievement terbesar yang bisa ditorehkannya dalam umur yang masih menginjak 3 tahun.
Demikian posting untuk kali ini, nanti akan kami sambung lagi dengan topik yang lain...
Wassalam
Friday, June 27, 2008
Puzzle for Children

Assalamu 'alaikum Wr.Wb.
Dear All,
Sudah lama tidak mem-posting sesuatu, ingin rasanya tangan ini menulis sesuatu. Mengingat Nadia adalah sumber inspirasi kami, maka dari dia juga ide ini muncul. Kebetulan hari ini dia baru menyukai Puzzle. Suatu permainan penataan bangun yang berdasarkan pada satu gambar atau pun bentuk ruang yang bisa ditata sedemikian rupa sehingga menjadi suatu deretan atau urutan gambar atau pola tertentu.
Puzzle yang paling bermanfaat adalah puzzle berbentuk kubus ataupun bentuk bangun geometri lainnya. Menurut bedlamp puzzle, bentuk ini yang paling bisa memberikan banyak manfaat bagi si kecil. Tetapi, pada garis besarnya, puzzle memang bermanfaat bagi anak antara lain :
- Puzzle dapat memberikan tantangan bagi anak untuk bisa memberikan suatu pemecahan masalah dan bagaimana cara mengatur dan mengatasinya.
- Anak akan bisa memberikan perhatian yang lebih lama pada suatu hal (konsentrasi) karena dia harus berpikir untuk menata puzzle tersebut dengan tidak membagi perhatian pada hal yang lain di sekitarnya.
- Si anak akan berlatih membedakan mana tugas yang penting atau mana yang bukan. Karena penyusunan puzzle memerlukan ketelitian pengaturan tersebut (jika puzzlenya berwujud gambar, dia harus mengurutkan agar puzzle tersebut tidak menjadi berantakan karena kesalahan peletakan)
- Anak tidak akan mudah frustasi, karena setiap persoalan pasti ada jalan dengan cara berlatih puzzle ini. Ini juga bisa memberikan indikasi seperti pola mental anak kita. Jika dia mudah menyerah pada saat penataan puzzle ini, maka kita sebagai orang tua harus mulai waspada pada perkembangan mentalnya
- Anak akan berusaha mencari jawaban dengan jalan menganalisa ataupun bergantung pada orang lain untuk memecahkan kebuntuan masalah, sehingga terjalin interaksi sosial yang baik. Ini juga bisa melatih intuisi anak untuk lebih kritis terhadap suatu masalah.
- Anak akan mulai berpikir bahwa pemecahan masalah biasanya terdiri lebih dari 5 cara.
- Pikiran anak akan lebih rileks jika dia menghadapi masalah dengan jalan melatih ketajaman intuisi dalam puzzle ini. Dia sudah terbiasa menghadapi tekanan, maka jika dia berhasil keluar sebagai pemenang, maka akan menambah kebanggaan hatinya
Demikian banyak keuntungan atau benefit permainan puzzle. Mengapa tidak kita tingkatkan daya penalaran anak kita dengan hal-hal yang kelihatannya sepele seperti puzzle tersebut ? Toh harga sebuah puzzle juga tidak mahal ?
Semoga postingan kali ini bermanfaat bagi kita semua.
Wassalam....
Wednesday, June 11, 2008
Jumpa di tahun 2008

Assalamu 'alaikum wr.wb.
Dear All,
Selamat pagi semuanya...... lama tidak meng-update private blog ini, sebenarnya kangen juga. Hanya waktu yang membatasi semuanya. Aktifitas bejibun yang mengurangi dan berakibat blog terbengkalai...hu...hu... sayang. Bahkan untuk minggu pun kadang masih saja beraktifitas.
Untuk menghilangkan rasa kangen, saya akan memulai ngeblog lagi meski dengan hal-hal yang ringan. Istilahnya untuk snack pembuka di tahun 2008. Seperti kata Kang Megono bahwa tahun sudah berlalu 5 bulan tetapi filenya masih di tahun 2007. Maafkan saya, bukannya disengaja, tetapi karena sibuuuuuk (he..he... sampai ngeblog pun tidak sempat).
Bulan Juli nanti Nadia akan memulai kehidupan baru sebagai seorang siswa, meskipun masih di Kelompok Bermain. Umurnya kan baru 3 th, tinggi 101 cm, berat 19,7 kg. Wadhuh seperti sensus anak saja ya.... Nadia memang tergolong besar di kelasnya (sering mengulas Elok Motor Club sih)... Seluruh bajunya sekarang adalah baju untuk anak berusia 5 th. Jadi anda bisa membayangkan betapa jumbonya dia sekarang ini, padahal bapak ibunya kecil-kecil... sampai ada yang bertanya anaknya kerasukan gen dari mana nih......
Nadia sekarang sudah mulai kritis untuk mengkritik sesuatu yang berbeda dengan pendapatnya. Itulah yang membuat kami selaku orang tuanya sesegera mungkin memasukkan dia ke sekolah, lagi pula Nadia sendiri yang meminta.
Selain itu, dia juga suka bergaya. Anda bisa melihat gayanya di foto terlampir. Seperti anak yang sudah dewasa saja, padahal waktu difoto, kami tidak mengarahkannya untuk bergaya seperti tsb.
Cukup sudah ngeblog kali ini, nanti kami sambung lagi.
Wassalam
Thursday, December 27, 2007
Toleransi terhadap anak
Dear All,
Assalamu 'alaikum Wr.Wb.
Bejibun pekerjaan yang dilakukan membuat kesempatan kami untuk on line menjadi semakin jarang. Tetapi meskipun demikian, setiap ada kesempatan akan selalu saya gunakan untuk membuat postingan baru yang mungkin bisa digunakan untuk "sharing" bagi sesama parents. Untuk tema kali ini saya mengambil tema toleransi.
Kata toleransi sendiri berasal dari bahasa Inggris yaitu "tolerate", kalau dalam bahasa Indonesia berarti sabar menghadapi atau mungkin mendekati arti "maklum" -- sepertinya kata ini juga serapan dari bahasa Arab... mohon dikoreksi kalau salah.
Toleransi yang akan kita bahas adalah toleransi terhadap anak dalam hal aktifitasnya sehari-hari. Kita sering mendapati si kecil melakukan hal-hal yang membikin kita jengkel. Seandainya kita memarahi atau menghukum dia, terkadang kita tidak mengetahui batasan toleransi yang kita berikan untuk memberikan hukuman atau mendiamkannya.
Toleransi di sini memang berhubungan dengan batasan atau standar kita untuk tidak memberikan hukuman bagi si kecil. Jika dari awal sudah menggariskan standar toleransi, tidak mungkin kita selalu memberikan hukuman bagi si kecil. Jadi, kenakalan anak pun mempunyai skala prioritas. Toleransi anak ada dua macam, yaitu :
1. Toleransi perbuatan
Kita bisa memulai batasan toleransi anak agar tidak dihukum dari hal-hal yang sepele misalnya tidak mau tidur, tidak mau diam dsb, tetapi itu semua tergantung dari kita sebagai orang tua. Saya tidak berani memberikan batasan di sini, karena saya rasa toleransi masing-masing orang tua berbeda-beda (relatif). Nah, batasan akhir toleransi perbuatan adalah jika si kecil mulai melakukan perusakan, baik itu mainan ataupun perabot rumah tangga. Jika dia melakukan hal-hal tersebut, berarti kita harus memberikan teguran atau pun hukuman bagi si kecil. Lihat lagi posting tentang Hukuman.
2. Toleransi perkataan
Anak sering mengungkapkan kata-kata yang tidak lazim sebagai akibat dari pergaulan dengan lingkungannya. Ini yang perlu kita waspadai, karena pengaruh lingkungan terhadap perkembangan anak sangatlah besar. Kita sebagai orang tua harus bisa memberikan batasan toleransi perkataan yang harus kita larang atau tidak diperbolehkan. Karena jika dalam hal perkataan yang jelek kita biarkan, maka tidak menutup kemungkinan itu akan berlanjut menjadi kebiasaan sampai dewasa kelak.
Tentu kita tidak ingin diri kita sebagai orang tua dicap tidak bisa mendidik anak dengan baik hanya karena anak kita sering mengeluarkan kata-kata kasar dsb.
Nah untuk kelanjutan penanganan toleransi ini, silakan untuk membaca posting Hukuman.
Demikian dulu postingan kali ini, semoga bermanfaat selalu.
Wassalam
Assalamu 'alaikum Wr.Wb.
Bejibun pekerjaan yang dilakukan membuat kesempatan kami untuk on line menjadi semakin jarang. Tetapi meskipun demikian, setiap ada kesempatan akan selalu saya gunakan untuk membuat postingan baru yang mungkin bisa digunakan untuk "sharing" bagi sesama parents. Untuk tema kali ini saya mengambil tema toleransi.
Kata toleransi sendiri berasal dari bahasa Inggris yaitu "tolerate", kalau dalam bahasa Indonesia berarti sabar menghadapi atau mungkin mendekati arti "maklum" -- sepertinya kata ini juga serapan dari bahasa Arab... mohon dikoreksi kalau salah.
Toleransi yang akan kita bahas adalah toleransi terhadap anak dalam hal aktifitasnya sehari-hari. Kita sering mendapati si kecil melakukan hal-hal yang membikin kita jengkel. Seandainya kita memarahi atau menghukum dia, terkadang kita tidak mengetahui batasan toleransi yang kita berikan untuk memberikan hukuman atau mendiamkannya.
Toleransi di sini memang berhubungan dengan batasan atau standar kita untuk tidak memberikan hukuman bagi si kecil. Jika dari awal sudah menggariskan standar toleransi, tidak mungkin kita selalu memberikan hukuman bagi si kecil. Jadi, kenakalan anak pun mempunyai skala prioritas. Toleransi anak ada dua macam, yaitu :
1. Toleransi perbuatan
Kita bisa memulai batasan toleransi anak agar tidak dihukum dari hal-hal yang sepele misalnya tidak mau tidur, tidak mau diam dsb, tetapi itu semua tergantung dari kita sebagai orang tua. Saya tidak berani memberikan batasan di sini, karena saya rasa toleransi masing-masing orang tua berbeda-beda (relatif). Nah, batasan akhir toleransi perbuatan adalah jika si kecil mulai melakukan perusakan, baik itu mainan ataupun perabot rumah tangga. Jika dia melakukan hal-hal tersebut, berarti kita harus memberikan teguran atau pun hukuman bagi si kecil. Lihat lagi posting tentang Hukuman.
2. Toleransi perkataan
Anak sering mengungkapkan kata-kata yang tidak lazim sebagai akibat dari pergaulan dengan lingkungannya. Ini yang perlu kita waspadai, karena pengaruh lingkungan terhadap perkembangan anak sangatlah besar. Kita sebagai orang tua harus bisa memberikan batasan toleransi perkataan yang harus kita larang atau tidak diperbolehkan. Karena jika dalam hal perkataan yang jelek kita biarkan, maka tidak menutup kemungkinan itu akan berlanjut menjadi kebiasaan sampai dewasa kelak.
Tentu kita tidak ingin diri kita sebagai orang tua dicap tidak bisa mendidik anak dengan baik hanya karena anak kita sering mengeluarkan kata-kata kasar dsb.
Nah untuk kelanjutan penanganan toleransi ini, silakan untuk membaca posting Hukuman.
Demikian dulu postingan kali ini, semoga bermanfaat selalu.
Wassalam
Monday, November 26, 2007
Hukuman bagi si Kecil
Assalamu 'alaikum Wr.Wb.
Dear all,
Lama tidak membuat posting jadi berasa kangen......
Untuk kali ini saya posting hal yang berhubungan dengan si kecil lagi, yaitu tentang hukuman. Seringkali kita dipusingkan tingkah anak kita entah itu karena bertingkah semau sendiri ataupun mencari perhatian kita dengan jalan melakukan hal yang tidak menyenangkan. Alhamdulillah, Nadia sampai sekarang ini tidak pernah bertingkah aneh yang bisa memusingkan kepala kedua orang tuanya. Tetapi kalau boleh saya sarankan bagi anda yang mempunyai anak yang aktif (atau terkesan nakal), harap memakluminya karena itu merupakan proses kematangan emosionalnya.
Kita sebagai orang tua biasanya mengharapkan hal-hal yang baik (menurut kita) dari si kecil. Inginnya mempunyai anak penurut, mudah dinasehati, tidak bertingkah aneh-aneh ataupun hal lain yang kurang menyenangkan lainnya. Jika si kecil bertingkah hal yang tidak sesuai keinginan kita atau keterlaluan, sering ada orang tua yang memberikan hukuman. Hukuman bisa membuat si kecil jera, atau malah semakin menjadi-jadi, tergantung sifat anak kita dan cara kita memberikan hukuman dan pengertiannya.
Macam Hukuman
Ada dua hal hukuman yang bisa kita berikan pada si kecil :
a. Hukuman Non Fisik :
Hukuman yang diberikan melalui ucapan atau tindakan kita.
1. Hukuman ucapan
Kita menegurnya saat si Kecil melakukan kesalahan. Di sisi ini kita juga harus memberikan pengertian bahwa dia telah melakukan kesalahan. Saya ingatkan, jangan pernah menegur si Kecil dengan ucapan yang kasar. Ucapan kasar akan berpengaruh pada komunikasi sosialnya. Apalagi fase pra sekolah. Daya ingat si Kecil teramat peka pada hal-hal yang baru, sehingga kita perlu membinanya dengan memberikan contoh yang baik saja.
2. Nasehat
Hukuman non fisik bisa juga berarti nasehat. Jika dia melakukan kesalahan, anda bisa memberikan pengertian tentang benar salahnya, efek kesalahan tersebut, solusi menghindarinya serta cara memperbaiki sikap atas kesalahan yang telah dilakukan.
b. Hukuman Fisik :
Hukuman yang diberikan dengan jalan memberikan peringatan yang berhubungan dengan fisik pada si kecil, seperti menjewer, mencubit dsb. Hukuman ini harap diberikan jika si Kecil keterlaluan. Ada baiknya diberikan hukuman non fisik terlebih dahulu.
Efek Positif Hukuman fisik
1. Si Kecil mungkin akan menuruti kita sesudah mendapatkan hukuman tersebut, namun jangan sampai intensitas hukuman fisik yang kita berikan terlalu sering, karena bisa saja dia berkeyakinan bahwa setiap kesalahan pasti berbuah hukuman. Ini sangatlah berbahaya bagi perkembangan jiwanya.
2. Si Kecil akan merasa bahwa tindakannya benar-benar keterlaluan sehingga perlu dihukum secara fisik.
Efek Negatif Hukuman Fisik
1. Si Kecil bisa saja dendam pada si pemberi hukuman jika hukuman fisik diterapkan sesering mungkin pada setiap kesalahan yang dia lakukan.
2. Si Kecil akan merasa diperlakukan tidak adil karena mendapatkan hukuman atas kesalahan yang menurutnya "biasa saja".
3. Jika si Kecil berjiwa pemberontak, maka hukuman fisik akan membuatnya lebih tahan hukuman. Dan kemungkinan, akan berpengaruh pada hubungan sosial dengan teman-temannya. Bisa saja si Kecil melampiaskan kemarahan atas hukuman yang diterima pada teman-temannya.
Kedua bentuk hukuman tersebut di atas sama pentingnya, tetapi untuk si kecil saya sarankan untuk lebih memperhatikan pada hukuman non fisik dulu. Hukuman non fisik lebih bermanfaat bagi segi kejiwaan anak. Seandainya si Kecil bertingkah "keterlaluan", setelah kita berikan hukuman non fisik berkali-kali tidak berubah --- dalam pengertian kenakalan anak, maka perlu juga sesekali kita berikan hukuman fisik. Itupun jangan sampai kebablasan.
Anak yang lebih sering terkena hukuman non fisik, kemudian sesekali dihukum fisik akan lebih mudah merasa bersalah dari pada anak yang sering mendapatkan hukuman fisik.
Itu dulu posting kali ini, semoga bermanfaat adanya.
Wassalam...
Dear all,
Lama tidak membuat posting jadi berasa kangen......
Untuk kali ini saya posting hal yang berhubungan dengan si kecil lagi, yaitu tentang hukuman. Seringkali kita dipusingkan tingkah anak kita entah itu karena bertingkah semau sendiri ataupun mencari perhatian kita dengan jalan melakukan hal yang tidak menyenangkan. Alhamdulillah, Nadia sampai sekarang ini tidak pernah bertingkah aneh yang bisa memusingkan kepala kedua orang tuanya. Tetapi kalau boleh saya sarankan bagi anda yang mempunyai anak yang aktif (atau terkesan nakal), harap memakluminya karena itu merupakan proses kematangan emosionalnya.
Kita sebagai orang tua biasanya mengharapkan hal-hal yang baik (menurut kita) dari si kecil. Inginnya mempunyai anak penurut, mudah dinasehati, tidak bertingkah aneh-aneh ataupun hal lain yang kurang menyenangkan lainnya. Jika si kecil bertingkah hal yang tidak sesuai keinginan kita atau keterlaluan, sering ada orang tua yang memberikan hukuman. Hukuman bisa membuat si kecil jera, atau malah semakin menjadi-jadi, tergantung sifat anak kita dan cara kita memberikan hukuman dan pengertiannya.
Macam Hukuman
Ada dua hal hukuman yang bisa kita berikan pada si kecil :
a. Hukuman Non Fisik :
Hukuman yang diberikan melalui ucapan atau tindakan kita.
1. Hukuman ucapan
Kita menegurnya saat si Kecil melakukan kesalahan. Di sisi ini kita juga harus memberikan pengertian bahwa dia telah melakukan kesalahan. Saya ingatkan, jangan pernah menegur si Kecil dengan ucapan yang kasar. Ucapan kasar akan berpengaruh pada komunikasi sosialnya. Apalagi fase pra sekolah. Daya ingat si Kecil teramat peka pada hal-hal yang baru, sehingga kita perlu membinanya dengan memberikan contoh yang baik saja.
2. Nasehat
Hukuman non fisik bisa juga berarti nasehat. Jika dia melakukan kesalahan, anda bisa memberikan pengertian tentang benar salahnya, efek kesalahan tersebut, solusi menghindarinya serta cara memperbaiki sikap atas kesalahan yang telah dilakukan.
b. Hukuman Fisik :
Hukuman yang diberikan dengan jalan memberikan peringatan yang berhubungan dengan fisik pada si kecil, seperti menjewer, mencubit dsb. Hukuman ini harap diberikan jika si Kecil keterlaluan. Ada baiknya diberikan hukuman non fisik terlebih dahulu.
Efek Positif Hukuman fisik
1. Si Kecil mungkin akan menuruti kita sesudah mendapatkan hukuman tersebut, namun jangan sampai intensitas hukuman fisik yang kita berikan terlalu sering, karena bisa saja dia berkeyakinan bahwa setiap kesalahan pasti berbuah hukuman. Ini sangatlah berbahaya bagi perkembangan jiwanya.
2. Si Kecil akan merasa bahwa tindakannya benar-benar keterlaluan sehingga perlu dihukum secara fisik.
Efek Negatif Hukuman Fisik
1. Si Kecil bisa saja dendam pada si pemberi hukuman jika hukuman fisik diterapkan sesering mungkin pada setiap kesalahan yang dia lakukan.
2. Si Kecil akan merasa diperlakukan tidak adil karena mendapatkan hukuman atas kesalahan yang menurutnya "biasa saja".
3. Jika si Kecil berjiwa pemberontak, maka hukuman fisik akan membuatnya lebih tahan hukuman. Dan kemungkinan, akan berpengaruh pada hubungan sosial dengan teman-temannya. Bisa saja si Kecil melampiaskan kemarahan atas hukuman yang diterima pada teman-temannya.
Kedua bentuk hukuman tersebut di atas sama pentingnya, tetapi untuk si kecil saya sarankan untuk lebih memperhatikan pada hukuman non fisik dulu. Hukuman non fisik lebih bermanfaat bagi segi kejiwaan anak. Seandainya si Kecil bertingkah "keterlaluan", setelah kita berikan hukuman non fisik berkali-kali tidak berubah --- dalam pengertian kenakalan anak, maka perlu juga sesekali kita berikan hukuman fisik. Itupun jangan sampai kebablasan.
Anak yang lebih sering terkena hukuman non fisik, kemudian sesekali dihukum fisik akan lebih mudah merasa bersalah dari pada anak yang sering mendapatkan hukuman fisik.
Itu dulu posting kali ini, semoga bermanfaat adanya.
Wassalam...
Tuesday, October 23, 2007
Fase bercerita
Assalamu 'alaikum Wr.Wb.
Dear All,
Taqobalallahu minna Waminkum Minal Aidin Walfaidzin, Kami sekeluarga mengucapkan Selamat Hari raya Idul Fitri 1428 H kepada segenap sahabat yang telah banyak membantu kami dengan berkunjung ke Blog ini. Mungkin selama ini banyak kesalahan yang kami perbuat melalui tulisan atau komentar yang kami lakukan secara tidak sengaja. Kami mohon maaf lahir dan batin, semoga segala kesalahan tersebut bisa dimaafkan, termasuk lama sekali tidak membuat posting untuk sahabat semua disebabkan karena kesibukan yang tidak bisa ditunda sama sekali.
Pencerita Kecil
Postingan kali ini akan saya ungkap tentang hobi baru Nadia yaitu senang bercerita. Saat kami ajak ke suatu tempat, entah ke Mall, ke tempat saudara, atau tempat yang lain, sesampainya di rumah pasti dia akan menceritakan segala sesuatunya kembali. Dengan lafal bocahnya (caranya bercerita selalu lucu dengan ekspresi yang membikin gemes kami), dia ceritakan semua yang menarik perhatiannya. Termasuk saat kami (orang tuanya) pulang kerja dan capek, "dipaksa" untuk mendengarkan celoteh Nadia tentang kegiatannya seharian.
Mungkin bagi yang sudah pernah mempunyai anak kecil akan terasa menyejukkan hati kita sebagai orang tua, tetapi bagi anda yang belum pernah mengalami, mungkin hal tersebut menjemukan ...(mungkin lho)....
Kelucuan dan keluguan Nadia tersebut bagi kami sangat menghibur untuk menanggalkan kepenatan setelah seharian bekerja. Bahkan Ibunya Nadia sering lupa makan saat mendengar celoteh Nadia ini.
Sikap kita
Sikap kami sebagai orang tua atas fase pencerita ini adalah :
a. Mendengarkan dengan penuh perhatian
Di usia seumurnya (2-5 th), anak pasti butuh perhatian yang lebih, karena hubungan sosialnya masih berkisar di antara keluarga dan tentangga. Sehingga, kita sebagai orang tua wajib mendengarkan setiap detail ceritanya sebagai wujud perhatian kita.
b. Memberikan komentar
Selain mendengarkan, kita juga wajib memberikan komentar atas cerita tersebut, Di sini, si kecil akan merasa "diorangkan" karena ceritanya menjadi cerita dua arah. Sehingga terwujudlah komunikasi yang lancar.
c. Membiarkannya bercerita sesuai dengan imajinasinya
Keuntungan dari membiarkannya bercerita sesuai dengan imajinasinya adalah kita mendidik anak untuk bisa mengasah pikirannya untuk berinovasi dengan daya khayalnya. Seperti Nadia pernah menceritakan putri Salju, Badut ataupun hal lain yang mungkin terasa ganjil di waktu-waktu kita saat itu. Tetapi hendaklah kita tanggapi dengan bijak khayalannya tersebut untuk sekedar mengasah imajinasinya tersebut. Bukankah kemajuan teknologi sekarang ini tercapai karena dorongan imajinasi atau mimpi para ilmuwan terdahulu ?
Keuntungan dari Fase Pencerita
1. Penguasaan bahasa
Dengan bercerita, anak bisa kita arahkan untuk menguasai bahasa yang digunakan termasuk pada lafal, tata bahasa dan penggunaan kata dalam bercerita. Biarkan dia bercerita dengan bahasanya, kemudian sedikit demi sedikit kita berikan pengarahan untuk membetulkan tata bahasanya. Ini akan melatih penguasaan bahasanya.
2. Memperluas pandangan sosial anak
Dengan bercerita, kita memberikan kesempatan si kecil untuk memperluas pandangan sosialnya. Pasti dia bercerita atas dasar pengalaman yang telah diperolehnya, entah dari tetangga, teman, TV ataupun sumber-sumber yang lain. Dengan membiarkannya bercerita, maka kita telah memperluas pandangannya, bukan hanya di seputar rumahnya.
3. Menghilangkan sifat Introvet anak
Banyak anak yang bersifat introvet karena tidak diberikan kesempatan untuk bercerita di hadapan orang tuanya. Dengan membiarkannya bercerita, kita bangun kepercayaan dirinya untuk mengungkapkan semua hal yang ada di pikirannya, sehingga kecenderungan introvet si kecil bisa terkikis sedikit demi sedikit.
Mungkin masih banyak lagi keuntungan lain yang kita peroleh dari si kecil yang melalui fas pencerita ini. Jika anak anda pendiam, ada baiknya anda pancing untuk melakukan komunikasi dengan orang lain baik itu orang tua, pengasuh, tetangga ataupun yang lainnya. Semoga artikel ini berguna bagi kita semua.
Wassalam..
Dear All,
Taqobalallahu minna Waminkum Minal Aidin Walfaidzin, Kami sekeluarga mengucapkan Selamat Hari raya Idul Fitri 1428 H kepada segenap sahabat yang telah banyak membantu kami dengan berkunjung ke Blog ini. Mungkin selama ini banyak kesalahan yang kami perbuat melalui tulisan atau komentar yang kami lakukan secara tidak sengaja. Kami mohon maaf lahir dan batin, semoga segala kesalahan tersebut bisa dimaafkan, termasuk lama sekali tidak membuat posting untuk sahabat semua disebabkan karena kesibukan yang tidak bisa ditunda sama sekali.
Pencerita Kecil
Postingan kali ini akan saya ungkap tentang hobi baru Nadia yaitu senang bercerita. Saat kami ajak ke suatu tempat, entah ke Mall, ke tempat saudara, atau tempat yang lain, sesampainya di rumah pasti dia akan menceritakan segala sesuatunya kembali. Dengan lafal bocahnya (caranya bercerita selalu lucu dengan ekspresi yang membikin gemes kami), dia ceritakan semua yang menarik perhatiannya. Termasuk saat kami (orang tuanya) pulang kerja dan capek, "dipaksa" untuk mendengarkan celoteh Nadia tentang kegiatannya seharian.
Mungkin bagi yang sudah pernah mempunyai anak kecil akan terasa menyejukkan hati kita sebagai orang tua, tetapi bagi anda yang belum pernah mengalami, mungkin hal tersebut menjemukan ...(mungkin lho)....
Kelucuan dan keluguan Nadia tersebut bagi kami sangat menghibur untuk menanggalkan kepenatan setelah seharian bekerja. Bahkan Ibunya Nadia sering lupa makan saat mendengar celoteh Nadia ini.
Sikap kita
Sikap kami sebagai orang tua atas fase pencerita ini adalah :
a. Mendengarkan dengan penuh perhatian
Di usia seumurnya (2-5 th), anak pasti butuh perhatian yang lebih, karena hubungan sosialnya masih berkisar di antara keluarga dan tentangga. Sehingga, kita sebagai orang tua wajib mendengarkan setiap detail ceritanya sebagai wujud perhatian kita.
b. Memberikan komentar
Selain mendengarkan, kita juga wajib memberikan komentar atas cerita tersebut, Di sini, si kecil akan merasa "diorangkan" karena ceritanya menjadi cerita dua arah. Sehingga terwujudlah komunikasi yang lancar.
c. Membiarkannya bercerita sesuai dengan imajinasinya
Keuntungan dari membiarkannya bercerita sesuai dengan imajinasinya adalah kita mendidik anak untuk bisa mengasah pikirannya untuk berinovasi dengan daya khayalnya. Seperti Nadia pernah menceritakan putri Salju, Badut ataupun hal lain yang mungkin terasa ganjil di waktu-waktu kita saat itu. Tetapi hendaklah kita tanggapi dengan bijak khayalannya tersebut untuk sekedar mengasah imajinasinya tersebut. Bukankah kemajuan teknologi sekarang ini tercapai karena dorongan imajinasi atau mimpi para ilmuwan terdahulu ?
Keuntungan dari Fase Pencerita
1. Penguasaan bahasa
Dengan bercerita, anak bisa kita arahkan untuk menguasai bahasa yang digunakan termasuk pada lafal, tata bahasa dan penggunaan kata dalam bercerita. Biarkan dia bercerita dengan bahasanya, kemudian sedikit demi sedikit kita berikan pengarahan untuk membetulkan tata bahasanya. Ini akan melatih penguasaan bahasanya.
2. Memperluas pandangan sosial anak
Dengan bercerita, kita memberikan kesempatan si kecil untuk memperluas pandangan sosialnya. Pasti dia bercerita atas dasar pengalaman yang telah diperolehnya, entah dari tetangga, teman, TV ataupun sumber-sumber yang lain. Dengan membiarkannya bercerita, maka kita telah memperluas pandangannya, bukan hanya di seputar rumahnya.
3. Menghilangkan sifat Introvet anak
Banyak anak yang bersifat introvet karena tidak diberikan kesempatan untuk bercerita di hadapan orang tuanya. Dengan membiarkannya bercerita, kita bangun kepercayaan dirinya untuk mengungkapkan semua hal yang ada di pikirannya, sehingga kecenderungan introvet si kecil bisa terkikis sedikit demi sedikit.
Mungkin masih banyak lagi keuntungan lain yang kita peroleh dari si kecil yang melalui fas pencerita ini. Jika anak anda pendiam, ada baiknya anda pancing untuk melakukan komunikasi dengan orang lain baik itu orang tua, pengasuh, tetangga ataupun yang lainnya. Semoga artikel ini berguna bagi kita semua.
Wassalam..
Subscribe to:
Posts (Atom)
